MENAKAR PANJI KOMING: Tafsiran Komik Karya Dwi Koendoro pada Masa Reformasi 1998
(Muhammad Nashir Setiawan. Kompas, 2002, ISN 979-709-011-6)
Komik strip Panji Koming menjadi salah satu ikon penting di harian
Kompas. Karya Dwi Koen ini digemari banyak orang dan selalu ditunggu-tunggu
karena isinya sarat dengan pesan. Kebanyakan perihal
peristiwa-peristiwa yang terjadi disekeliling kita saat ini. M. Nashir, sang penulis,
mengangkat sederet episode Panji Koming pada kurun waktu 1998 yang
bertepatkan dengan era reformasi dan jatuhnya rezim Presiden Soeharto yang
telah berkuasa selama 32 tahun.
Penulis memulainya dengan kilas balik sejarah komik pers Indonesia,
dimana salah satunya kembali ke relief-relief candi Borobudur dan
lain-lain. Berbagai prasi pada daun lontar Bali juga menyerupai relief dan
wayang beber, yaitu bercerita melalui gambar. Berbagai sumber ini sebagai
bukti bahwa bangsa Indonesia sudah akrab dengan cerita bergambar atau
gambar cerita sejak berabad-abad silam.
Penulis kemudian melanjutkan dengan kilas balik berbagai komik strip di
berbagai belahan dunia. Kita mengenal adanya Tintin, Snoopy, Garfield,
dll dari komik strip. Indonesia juga kerap memuat komik strip di
koran-koran harian. Panji Koming adalah salah satu diantaranya.
Saat ‘Reformasi’ didengungkan akhir tahun 1997, saat itu pulalah kita
secara perlahan-lahan mulai ‘melawan’ penguasa dengan iklim keterbukaan.
Masyarakat mulai berani mengeluarkan suara nuraninya dan puncaknya
terjadi setelah adanya pergantian pimpinan nasional hingga pemerintahan
Orde Baru digantikan oleh pemerintahan kabinet Reformasi. Upaya melawan
penguasa juga nyata dalam kisah-kisah Panji Koming.
Walaupun setting Panji Koming adalah sekitar kerajaan Majapahit abad
13, tapi suasana digambarkan selayaknya kehidupan kita sehari-hari. Dalam
hal ini adalah seputar era reformasi. Memang tidak seluruh 30an komik
strip periode Mei 1998-Desember 1998 dibahas satu per satu. Tapi penulis
mengelompokkannya menjadi beberapa: Penguasa Mati Rasa, ‘Lengser
Keprabon Madeg Pandhita’, ‘Mikul Dhuwur Mendhem Jero’ (rasa takut Soeharto
pada karma/ karena merasa banyak melakukan kesalahan), Masalah Makin
Berat (suksesi kepada BJ Habibie), Musyawarah Plesetan (berbagai tragedi
berdarah, sidang umum MPR, rekayasa politis), Makar dan ‘Ewuh Pakewuh’
(pengusutan harta Soeharto yang ngga pernah tuntas).
Sangat menarik berbagai hasil penelitian penulis, apalagi bagi kita
yang masih mengingat peristiwa seputar lengsernya Presiden Soeharto. Mulai
dari demonstrasi nasional para mahasiswa, tragedi Semanggi dan tragedi
Trisakti, Jakarta riot, mundurnya Soeharto, pelantikan Habibie,
merdekanya Timor Timur, sampai terpilihnya duet Gus Dur-Megawati. Periode ini
benar-benar periode kelabu (jika tak bisa dibilang periode hitam)
sejarah bangsa Indonesia. Melalui Panji Koming, sekali lagi kita melihat
betapa sebuah atau serangkaian gambar dapat ‘berbicara’ lebih ampuh dari
sederet kata dan kalimat.[*]
Surjorimba Suroto
Komik strip Panji Koming menjadi salah satu ikon penting di harian
Kompas. Karya Dwi Koen ini digemari banyak orang dan selalu ditunggu-tunggu
karena isinya sarat dengan pesan. Kebanyakan perihal
peristiwa-peristiwa yang terjadi disekeliling kita saat ini. M. Nashir, sang penulis,
mengangkat sederet episode Panji Koming pada kurun waktu 1998 yang
bertepatkan dengan era reformasi dan jatuhnya rezim Presiden Soeharto yang
telah berkuasa selama 32 tahun.
Penulis memulainya dengan kilas balik sejarah komik pers Indonesia,
dimana salah satunya kembali ke relief-relief candi Borobudur dan
lain-lain. Berbagai prasi pada daun lontar Bali juga menyerupai relief dan
wayang beber, yaitu bercerita melalui gambar. Berbagai sumber ini sebagai
bukti bahwa bangsa Indonesia sudah akrab dengan cerita bergambar atau
gambar cerita sejak berabad-abad silam.
Penulis kemudian melanjutkan dengan kilas balik berbagai komik strip di
berbagai belahan dunia. Kita mengenal adanya Tintin, Snoopy, Garfield,
dll dari komik strip. Indonesia juga kerap memuat komik strip di
koran-koran harian. Panji Koming adalah salah satu diantaranya.
Saat ‘Reformasi’ didengungkan akhir tahun 1997, saat itu pulalah kita
secara perlahan-lahan mulai ‘melawan’ penguasa dengan iklim keterbukaan.
Masyarakat mulai berani mengeluarkan suara nuraninya dan puncaknya
terjadi setelah adanya pergantian pimpinan nasional hingga pemerintahan
Orde Baru digantikan oleh pemerintahan kabinet Reformasi. Upaya melawan
penguasa juga nyata dalam kisah-kisah Panji Koming.
Walaupun setting Panji Koming adalah sekitar kerajaan Majapahit abad
13, tapi suasana digambarkan selayaknya kehidupan kita sehari-hari. Dalam
hal ini adalah seputar era reformasi. Memang tidak seluruh 30an komik
strip periode Mei 1998-Desember 1998 dibahas satu per satu. Tapi penulis
mengelompokkannya menjadi beberapa: Penguasa Mati Rasa, ‘Lengser
Keprabon Madeg Pandhita’, ‘Mikul Dhuwur Mendhem Jero’ (rasa takut Soeharto
pada karma/ karena merasa banyak melakukan kesalahan), Masalah Makin
Berat (suksesi kepada BJ Habibie), Musyawarah Plesetan (berbagai tragedi
berdarah, sidang umum MPR, rekayasa politis), Makar dan ‘Ewuh Pakewuh’
(pengusutan harta Soeharto yang ngga pernah tuntas).
Sangat menarik berbagai hasil penelitian penulis, apalagi bagi kita
yang masih mengingat peristiwa seputar lengsernya Presiden Soeharto. Mulai
dari demonstrasi nasional para mahasiswa, tragedi Semanggi dan tragedi
Trisakti, Jakarta riot, mundurnya Soeharto, pelantikan Habibie,
merdekanya Timor Timur, sampai terpilihnya duet Gus Dur-Megawati. Periode ini
benar-benar periode kelabu (jika tak bisa dibilang periode hitam)
sejarah bangsa Indonesia. Melalui Panji Koming, sekali lagi kita melihat
betapa sebuah atau serangkaian gambar dapat ‘berbicara’ lebih ampuh dari
sederet kata dan kalimat.[*]
Surjorimba Suroto

0 Comments:
Post a Comment
<< Home